Misi itu memang sangat berbahaya. Bahkan angkatan udara kerajaan Inggris pun menolak mentah-mentah tugas ini. Mengawal pesawat pembom di siang bolong adalah misi gila. Kalaupun ada yang berani melakukannya, mereka adalah para penerbang yang tergabung dalam program pelatihan Tuskegee. Mereka memang belum pernah turun ke medan peperangan tapi soal kepiawaian meliuk di tangah desingan peluru, hanya mereka yang sanggup melakukannya.
Program Tuskegee memang program yang hampir dihentikan. Mereka yang tergabung dalam tim ini adalah para penerbang kulit hitam yang saat itu memang diperlakukan tidak adil. Diskriminasi ras di saat Perang Dunia II memang bukanlah sesuatu yang aneh. Tim yang dipimpin oleh Martin Julian (Nate Parker) ini memang mendapat pelatihan menjadi pilot namun mereka tak pernah diizinkan untuk ikut turun ke medan laga.
Mereka hanya pilot cadangan yang tak akan pernah diturunkan, setidaknya sampai misi maut ini muncul. Kini Tuskegee mendapat kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka juga pilot yang andal. Meski begitu, bukan berarti tugas ini lantas jadi mudah. Banyak yang harus mereka buktikan tapi banyak juga yang harus mereka pertaruhkan, termasuk nyawa mereka.
Kapten haunted dari kapal selam Soviet memegang nasib dunia di tangannya. Terpaksa meninggalkan keluarganya, dia dituduh memimpin sebuah misi rahasia berselimut misteri.
Ed Harris sebagai kapten kapal selam rudal Soviet pada Perang Dingin yang mengubah persepsi tentang realitas. Dipaksa untuk meninggalkan istri dan anaknya, ia bergegas ke misi rahasia, di mana dia dihantui oleh masa lalunya dan ditantang oleh KGB group (dipimpin oleh David Duchovny) bertekad merebut kendali rudal kapal nuklir. Dengan nasib kemanusiaan di tangannya, Harris menemukan dia dipilih untuk misi ini dengan keyakinan dia akan gagal.
Tiga bersaudara, Messaoud (Roschdy Zem), Abdelkader (Sami Bouajila), dan Saïd (Jamel Debbouze) terpaksa harus meninggalkan Aljazair setelah mereka kehilangan rumah tinggal mereka. Ketiganya terpisah namun takdir akhirnya mempertemukan mereka semua di Perancis dan semua itu karena keinginan untuk bebas juga.
Messaoud sempat bergabung dengan angkatan bersenjata Perancis dan ditugaskan di Indochina sementara Abdelkader malah menjadi pemimpin Gerakan Aljazair Merdeka yang berbasis di Perancis. Di sisi lain, Saïd malah memilih mencari kekayaan di sebuah klub malam dan klub tinju di Paris.
Tak ada yang mengira kalau mereka bakal bertemu lagi namun takdir sepertinya berkata lain. Karena keinginan untuk bebas dan merdeka pula tiga saudara ini kembali bertemu di Paris. Mereka tahu kebebasan ada harganya dan itu tak membuat mereka mundur.
Jika saja dunia benar-benar memiliki sosok seperti Army Chief Warrant Roy Miller (Matt Damon) dalam kekisruhan mengenai senjata pemusnah massal (Weapon of Mass Destruction - WMD). Premis seorang patriot jujur yang menemukan kebenaran dan mempublikasikannya adalah sesuatu yang hanya ada di angan-angan dan juga di film ini, Green Zone.
Film ini bukanlah sebuah dokumenter, tetapi didasarkan pada buku nonfiksi berjudul Imperial Life in the Emerald City tulisan wartawan Washington Post bernama Rajiv Chandrasekaran. Buku itu bercerita tentang awal perang irak dan kekacauan yang terjadi setelahnya. Anehnya, film ini dipublikasikan seakan-akan sebagai film Bourne yang keempat. Hal ini bisa dimengerti mengingat Damon kembali bekerjasama dengan sutradara dua film Bourne, Paul Greengrass. Kerja mereka dalam The Bourne Supremacy dan The Bourne Ultimatum menghasilkan film action beroktan tinggi.
Tetapi, Green Zone tidak mencapai standar Bourne. Plotnya tidak sebagus Bourne dan karakter-karakter yang ada digambarkan secara hitam putih. Sangat gamblang. Pengambilan gambar yang dilakukan Greengras terkadang membuat kita pusing. Dialog yang ditulis oleh Brian Helgeland bisa ditebak sebelumnya. Misalnya, kalimat "The world is watching" atau "I just want to help my country".
Kisah ini ber-setting tahun 2003 pada awal pendudukan Amerika di Irak. Miller ditugaskan untuk mencari WMD, sebuah tugas yang selalu berakhir sia-sia karena Miller tidak pernah menemukan apa-apa. Awalnya, Miller mengira ada kesalahan data intelijen sampai akhirnya dia menemukan kebenaran.
Akting Damon adalah penampilan kelas satu, tetapi bakat Amy Ryan - yang memerankan wartawan Wall Street Journal - tersia-siakan. Penampilan yang bagus justru datang dari Khalid Abdalla yang memerankan seorang warga Irak dan sangat terguncang melihat invasi Amerika ke negaranya. "It's not for you to decide what happens here." adalah kata-kata mengesankan yang diucapkan karakter Abdalla kepada Miller.
Green Zone mengungkap fakta kebohongan yang dilakukan oleh pemerintah Amerika. Memang, tema ini sudah basi saat film diluncurkan. Tetapi film ini bisa kembali mengingatkan pemerintah manapun agar tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh rezim Bush.
Shaw was an officer in the Federal Army during the American Civil War who volunteered to lead the first company of black soldiers. Shaw was forced to deal with the prejudices of both the enemy (who had orders to kill commanding officers of blacks), and of his own fellow officers.
Berdasarkan kisah Sam Kok yang bersetting pada awal abad ke-3 Masehi dimana wilayah Wu diserang oleh Cao Cao dan bala tentaranya. Untuk menghadapi serangan Cao Cao itu, akhirnya panglima perang wilayah Wu yang bernama Sun Quan (Chang Chen) mendapat bantuan bantuan dari panglima perang lain, Liu Bei (You Yong).
Namun tentara lawan tetap tak tertandingi dan bahkan makin mengancam keselamatan wilayah Wu. Meskipun demikian, jenderal Zhou Yu (Tony Leung) yang merupakan wakil Sun Quan dan ahli strategi Liu Bei, yaituZhuge Liang (Takeshi Kaneshiro) melihat bahwa tentara Cao tidak mampu bertarung di atas air. Dengan kekuatan 200.000 tentara, Zhou Yu dan Zhuge Liang melawan tentara Cao Cao di Sungai Yangtze.
Bagaimana Zhou You dan Zhuge Liang dengan pasukannya menghadapi pasukan Cao Cao yang akan menentukan akhir perang mereka itu?
Film ini berlatar belakang tahun 208 SM. Saat itu adalah hari-hari terakhir pemerintahan Dinasti Han. Perdana Menteri licik Cao Cao (Zhang Fengyi) meyakinkan Raja Han yang lemah bahwa satu-satunya cara untuk menyatukan seluruh daratan Cina yaitu dengan menyatakan perang terhadap kerajaan-kerajaan Xu di bagian barat dan East Wu di bagian selatan. Maka di mulailah kampanye militer besar-besaran, dipimpin oleh sang Perdana Menteri. Sejumlah peperangan terjadi, baik di laut maupun daratan, dan akhirnya memuncak di Karang Merah (Red Cliff). Selama perang berlangsung, dua ribu kapal dibakar, dan sejarah negeri Cina berubah selamanya.
Utusan Kekaisaran Persia tiba di Sparta, meminta Sparta tunduk pada raja Xerxes (Rodrigo Santoro). Namun Leonidas (Gerard Butler), raja Sparta, menolaknya dan membunuh semua utusan Persia. Akibatnya Sparta harus berperang melawan Persia.
Leonidas bersama 300 prajurit Sparta pergi menuju Thermophylae dan berencana menahan pasukan Persia di sana, dalam perjalan kaum Arkadia ikut bergabung bersama mereka. Di Themophylae, Pasukan Sparta berjuang mati-matian melawan pasukan Persia yang jumlahnya jauh lebih banyak. Tapi, pada akhirnya, Leonidas bersama dengan 300 prajurit Sparta gugur dalam peperangan terakhir,namun, sang raja menyuruh kepada kaptenya untuk pulang ke kerajaan Sparta dan sang raja juga menitipkan pesan kepadanya, pesan yang cukup sederhana "Ingatlah Alasan Kami Gugur". Selang beberapa tahun, 10.000 ribu pasukan Sparta bersama dengan 30.000 pasukan Yunani yang bebas menyerang kerajaan persia yang masih ada di Yunani.
Pada 1453, ibukota Bizantium dari Constantinople yang dikelilingi oleh Ottoman Turki. Kota ini menjadi bayang-bayang kejayaan karena kekaisaran yang pernah surut kas, sementara Kekaisaran Ottoman terus bertambah kaya. Setelah bertahun-tahun menoleransi keberadaan Byzantium, sultan ambisius, Mehmet II meluncurkan kampanyenya untuk mengakhiri Kekaisaran Bizantium dan mengambil Constantinople untuk Ottoman, sehingga bisa dibilang pengepungan terbesar zaman itu.
Inggris dan Jerman menembak satu sama lain ke bawah, dan kemudian menemukan diri mereka di kabin yang sama. Dalam rangka untuk bertahan musim dingin yang sulit di padang gurun Norwegia mereka harus berdiri bersama-sama. Ini adalah awal dari sebuah persahabatan yang panjang dan tidak mungkin.
Kisah tentang orang-orang yang menaruh kebencian kepada serdadu Nazi, saat pendudukan di Perancis. Alkisah, seorang gadis muda bernama Dreyfus Shosanna harus menyaksikan pembantaian keluarganya oleh Kolonel Hans Landa.
Dendam membara di kepala Shosanna tak pernah berujung, hingga sebuah kesempatan itu datang. Ia menyusun rencana pembunuhan terhadap Landa serta para pemimpin Nazi, termasuk Hitler.
Secara tak sengaja, Shosanna bertemu dengan kelompok pasukan Yahudi Amerika bernama "Basterds" yang dipimpin Letnan Aldo Raine. Tugas mereka cuma satu, menghabisi nyawa para serdadu Nazi tanpa ampun. Mereka pun bertemu dan bersatu padu untuk menghabisi para pemimpin Jerman dengan merencanakan pengeboman di sebuah acara premier film Jerman yang dibintangi Fredrick Zoller.
Ribuan tahun silam, sebuah kapal bangsa Viking penuh mayat terdampar di tepi pantai laut Timur, Amerika Utara, dan hanya menyisakan satu penyintas. Seorang bocah viking yang akhirnya tumbuh dan dibesarkan seorang Indian Wayne Baker (Wayne Charles Baker). Bergaul dan mengenal tradisi Indian sejak kecil, membuat Ghost (Karl Urban), si bocah malang tersebut memiliki darah dan naluri layaknya Indian sejati, dan jauh dari karakter khas bangsa Viking yang dikenal biadab dan gemar berperang.
Sebagai orang asing di negeri asing, Ghost mulai belajar sesuatu yang tak pernah diajarkan bangsanya, bahkan bisa dibilang Ghost tak lagi mengenal karakter asli leluhurnya, darah dan jiwa Indian menitis dalam diri Ghost.
Sampai tibalah suatu waktu, di mana Ghost dihadapkan pada kenyataan bahwa dirinya memiliki darah seorang Viking. Kenyataan dan firasat buruk yang sebelumnya dibaca oleh Pathfinder (Russell Means), kepala suku Indian dari suku lain yang saat itu mengunjungi kampung Ghost, dan saat bertemu Ghost, Pathfinder membaca firasat buruk mengenai nasib suku Indian ke depan.
Apa yang dirasakan Pathfinder sangat tepat, selang kepergian Ghost meninggalkan kampungnya untuk berburu, muncul pasukan bangsa Viking di bawah pimpinan Gunnar (Clancy Brown) yang dengan kejam menghancurkan dan membunuh seluruh warga kampung Ghost.
Ghost yang pulang dari berburu tak pernah mengira apa yang dirasakan Pathfinder menjadi sebuah kenyataan pahit yang harus diterimanya. Seluruh keluarga yang membesarkannya dan sangat dihormatinya dibunuh dengan keji.
Sakit hati dan kecewa menyadari bahwa darah yang mengalir dalam tubuhnya adalah darah yang juga membunuh orang-orang yang dikasihinya, Ghost terus berjuang membuang jauh pemikiran bahwa dia adalah seorang Viking.
Dengan tekad bulad dan nafsu balas dendam, Ghost memutuskan pergi meninggalkan kampungnya dengan berbekal kepandaiannya bermain pedang. Menyelamatkan diri dan membunuh bangsa Viking menjadi rutinitas yang harus dilaluinyasetiap hari, sampai membawanya ke kampung Pathfinder. Kedatangan Ghost memaksa seluruh indian di kampung Pathfinder turut terlibat pertarungan melawan Viking.
Pertempuran melawan bangsa Viking ini memaksa putri Pathfinder, Starfire (Moon Bloodgood), ikut terlibat di dalamnya meski pada akhirnya ayah dan anak ini harus ditawan bangsa Viking. Ghost harus berjuang melawan Gunar dan anak buahnya, dan juga berupaya membebaskan Pathfinder dan Starfire, gadis yang diam-diam membuatnya jatuh cinta.
Bisa diduga dari judul yang dipasang, film ini berkisah tentang Genghis Khan, sang penakluk. Berbeda dengan film-film lain yang juga menyorot kehidupan Genghis Khan, film ini memberi gambaran yang lebih dalam mengenai pribadi Genghis Khan. Tidak digambarkan sebagai manusia yang bengis, dalam film ini Genghis Khan ditampilkan sebagai sosok pemimpin yang matang ditempa alam dan kehidupan.
Terlahir sebagai Temudgin, Genghis Khan yang baru berusia 9 tahun sedang dalam perjalanan menuju perkampungan Merkit. Beberapa tahun sebelumnya, Ensugei (Ba Sen), ayah Temudgin, menculik istri seorang prajurit Merkit. Sekarang, Ensugei ingin berdamai dengan cara menjodohkan Temudgin dengan gadis Merkit.
Dalam perjalanan, rombongan mereka berhenti di sebuah perkampungan. Di sinilah Temudgin bertemu dengan Borte yang kemudian menjadi istrinya. Keinginan Temudgin ini membuat marah Ensugei. Namun akhirnya Ensugei mengabulkan permintaan Temudgin. Maka perjodohan pun dilangsungkan. Kedua keluarga berjanji akan bertemu 5 tahun.
Saat pulang dari perkampungan itu, Ensugei, ayah Temudgin meninggal akibat racun yang dibuat oleh musuhnya. Secara adat, maka Temudgin akan menggantikan posisi Ensugei sebagai kepala suku, namun salah seorang bawahan Ensugei memberontak dan mengambil alih posisi Ensugei.
Temudgin terpaksa harus berkelana seorang diri di gurun yang luas agar terhindar dari maut yang mengincarnya setiap saat. Dalam masa-masa inilah Temudgin (Tadanobu Asano) dibentuk oleh kerasnya alam dan kehidupan di gurun yang ganas. Temudgin tumbuh menjadi laki-laki yang kuat dan akhirnya sanggup memimpin tentaranya untuk menguasai hampir seluruh benua Asia bahkan sampai ke Rusia. Pertemuannya kembali dengan Borte (Khulan Chuluun) yang kemudian istrinya menempatkan wanita ini pada posisi sebagai pendamping sekaligus penasehat pribadi Temudgin.
Film semi-historis garapan sutradara asal Rusia, Sergei Bodrov, ini memang layak dapat pujian. Mulai dari pemilihan lokasi, sudut pengambilan gambar, alur cerita, sampai acting para pemainnya benar-benar ditata secara menarik.
Bodrov memerlukan waktu bertahun-tahun, Ia menganggap proyek film tentang Genghis Khan ini adalah proyek terbesarnya. Dalam menentukan dan memilih pemain Bodrov mencarinya hingga ke seluruh penjuru dunia, meliputi Mongolia, Kazakhstan, Kyrgystan, Jepang, China, Korea, Los Angeles, dan wilayah Rusia seperti Tuva, Buryatia, Tatarstan, Bashkiria, Yakutia (aka Sakha), Volga, Ural, dan Siberia.
Produksi film MONGOL dimulai tahun 2005, dan pembuatannya sebagian besar berlokasi di wilayah terpencil di China, Mongolia dan Kazakhstan. Lokasi-lokasi tersebut benar-benar bagian dari kekaisaran bangsa Mongolia, meliputi jejak-jejak kosong dan hutan lebat yang merupakan kampung halaman Temudgin. Film ini mencoba mengabadikan pola hidup nomaden dari suku Mongol yang hidup di abad ke -12, melintasi daratan dengan berkuda, berpindah-pindah berdasarkan musim dan membentuk kamp-kamp yang efisien dan lengkap dengan binatang ternaknya.
Bercerita tentang sebuah grup kecil penjinak bom Angkatan Darat Amerika (U.S.ARMY) ketika bertugas di Irak tahun 2004. Sersan William James (Jeremy Renner), Sersan J.T. Sanborn (Anthony Mackie) dan Specialis Owen Eldridge (Brian Geraghty) dari Bravo Company ditugaskan menjinakkan bom - bom buatan rumahan atau rakitan dalam tugas kesehariannya.
J.T. Sanborn (Anthony Mackie) dan Owen Eldridge (Brian Geraghty) adalah dua orang tentara dari kesatuan tim gegana yang bertugas di Irak pada tahun 2004. Mereka berdua bertugas menyisir area yang akan dilewati tentara Amerika untuk mencari ranjau yang kemungkinan ditanam oleh tentara Irak. Bukan tugas yang susah namun menjadi sangat susah akibat medan yang sangat asing bagi mereka, warga yang mencurigai setiap kehadiran pasukan amerika, serta ketidak jelasan jenis bom yang akan dijinakkan. Tugas tim ini bukanlah tugas yang mudah. Sanborn dan Eldrige tak boleh membuat kesalahan sekecil apa pun atau nyawa orang lain yang akan jadi korban. Itu terbukti ketika atasan mereka jadi korban dalam salah satu misi yang mereka lakukan. Namun kesadaran akan pentingnya ketelitian itu dengan segera menjadi sesuatu yang tak lagi diperlukan ketika tim ini mendapat pimpinan baru.
Tak seperti atasan sebelumnya, Sersan William James (Jeremy Renner) adalah seorang tentara yang 'tak biasa' atau bisa dibilang anak baru di team Bravo setelah menggantikan pendahulunya yang meninggal terkena ledakan bom. James selalu melakukan tindakan yang menurut aturan standar militer adalah tindakan yang ceroboh, tak bertanggung jawab, ia juga orang yang cuek, terkadang terlalu blak-blakan dan terkesan selonongan dalam mengerjakan tugas, namun karena pengalaman yang sudah sangat banyak, sersan James bisa menjinakkan semua bom yang ditemukan dengan sempurna tanpa cela. James tak suka menggunakan robot untuk melumpuhkan ranjau dan lebih suka terjun langsung ke medan ranjau dan melumpuhkannya dengan tangan kosong. Sebagai bawahan, Sersan Sanborn bertugas sebagai kepala suku , terkesan sebagi pemimpin yang disiplin , selalu mengikuti peraturan dan tegas dalam menjalankan tugasnya. Sanborn dan Eldridge tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti perintah atasan.
Film dengan judul 1911 Revolution (Xīnhài Gémìng) ini dibintangi oleh Jackie Chan, Bing-Bing Li, Winston Chao (sebagai Sun Yat-sen), Joan Chen, dan lain-lain. Uniknya film ini juga merupakan filmnya yang ke-100. Jackie Chan juga menduduki posisi produser dan sutradara untuk film ini bersama dengan Li Zhang.
Dalam film 1911 ini Jackie Chan berperan sebagai Huang Xing (25 Oktober 1874 - 31 Oktober 1916). Huang Xing adalah seorang panglima perang pertama Republik Cina yang berperan penting dalam perang Revolusi China yang kemudian berhasil meruntuhkan Dinasti Qing. Juga adalah sahabat terdekat Sun Yat-sen. Keduanya dikenal sebagai “Dwi-Tunggal” dengan sebutan “Sun-Huang”. Keduanya mendirikan Kuomintang dan Republik China, paska runtunhnya Dinasti Qing.
A young journalist long ago rejected by his now aged and dying father finds himself investigating one of his father’s former friends, a candidate for canonization. Uncovering the two men’s complicated relationship from childhood through the horrors of the Spanish Civil War unveils a compelling drama filled with passion, betrayal, love and religion. An action packed story set during a murderous time in history that ultimately serves the present by revealing the importance and timeless power of forgiveness.
Dilatarbelakangi Perang Korea, film ini mengisahkan tentang dua bersaudara Lee Jin-Tae dan Lee Jin-seok. Jin-Tae rela putus sekolah dan bekerja sebagai penyemir sepatu agar adiknya bisa masuk universitas dan hidup lebih baik demi keluarga mereka (ayah mereka sudah wafat dan sang ibu kehilangan kemampuan bicara).
Sebelum impian itu terwujud, Perang Korea pecah. Jin-Seok dipaksa masuk sebagai tentara dan Jin-Tae nekat ikut demi menyelamatkan adiknya. Karena ingin adiknya bisa pulang, dan karena sang adik terkena asma, Jin-Tae membuat perjanjian dengan seorang perwira. Intinya, jika ia berhasil meraih medali, adiknya bisa dikirim pulang. Maka Jin-Tae memaksa ikut dalam misi-misi berbahaya dan berhasil. Jin-Seok yang salah paham, mengira kakaknya mengejar popularitas semata dan akhirnya muak setelah Jin-Tae membunuh sahabat mereka sendiri yang berada di pihak musuh.
Jin-Seok pulang ke rumah dan mendapati tunangan Jin-Tae dituduh sebagai mata-mata Korea Utara dan hendak dibunuh. Jin-Seok berusaha menyelamatkan calon kakak iparnya itu. Di saat yang sama, Jin-Tae mencari adiknya dan tiba saat sang kekasih nyaris ditembak. Karena hasutan pihak yang akan membunuh sang kekasih, Jin-Tae sempat meragukan kesucian kekasihnya dan itu berakibat tewasnya sang kekasih. Jin-Seok pun kembali menuduh kakaknya sebagai pembunuh dan mereka berdua ditahan meski Jin-Tae mengantongi medali kehormatan.
Dalam interogasi terhadap Jin-Tae, mendadak terjadi serangan dan kepala penjara memerintahkan agar para tawanan dibakar hidup-hidup. Jin-Tae yang patah arang setelah kematian kekasihnya dan mengira adiknya turut tewas terbakar akhirnya menyeberang ke pihak Korea Utara. Kini giliran Jin-Seok yang berusaha membawa pulang kakaknya dan gagal karena sang kakak tewas setelah berhasil memaksa Jin-Seok kembali ke rumah.
Film ini diawali dengan penemuan kerangka korban Perang Korea dan sosok Lee Jin-Seok tua.
3D anime tayang di Jepang dimana cerita mengambil dari perang di Timur Tengah. Cerita diambil dari sekuel manga kedua (Cat Shit One ’80).
Anime yang cucok buat War Freak (Kids are not recomended) karena semua action sama persis dengan dunia nyata (tahu lah… perang kaya apa).Semua alat militer + strategi = realita dunia (except characters).
Karakter/ binatang di anime ini mencerminkan kewarganegaraan masing2 (not only entertain) :
Kelinci = U.S.A.G.I (United States of America G.I… apa ya… ?
Film perang yang berlatar sejarah ini menceritakan tentang perang antara Nazi Jerman dengan Uni Soviet di Stalingrad pada musim semi tahun 1942. Dalam perang itu, pasukan Uni Soviet terpukul hebat di garis depan sehingga kota Stalingrad terancam jatuh ke tangan Jerman. Jika kota itu jatuh, Uni Soviet bisa runtuh di tangan musuh.
Dalam keadaan kritis dan tentara Rusia mengalami demoralisasi itulah, seorang pahlawan sangat dibutuhkan. Kehadiran seorang prajurit muda Soviet bernama Vassili Zaitsev (Jude Law) menarik perhatian seorang perwira propaganda yang ambisius, Commisar Danilov (Joseph Fiennes) karena Vassili ternyata punya kemampuan menembak jitu dari jarak jauh.
Dengan dukungan seorang perwira tinggi Soviet, Nikita Khrushchev (Bob Hoskin), Danilov pun merekrut Vassili menjadi penembak jitu untuk membunuh para perwira Nazi Jerman. Pilihan Danilov ternyata tidak keliru karena Vassili berhasil membunuh sederat perwira Jerman. Keberhasilan Vasilli dipublikasikan Danilov sehingga membangkitkan harapan dalam hati para tentara Soviet untuk mengusir Jerman keluar dari Stalingrad, bahkan dari tanah airnya.
Walau telah berkali-kali sukses melaksanakan tugasnya sehingga namanya menjadi momok bagi pasukan Jerman terutama jajaran perwiranya, ternyata Vassili memiliki keraguan bisa memenuhi harapan yang dibebankan padanya. Di sisi lain, ia harus bersaing dengan Danilov dalam mendapatkan cinta seorang penerjemah cantik, Tania (Rachel Weisz). Sementara itu, tidak mau menderita kerugian lebih jauh, pihak Jerman akhirnya mengirim seorang penembak jitunya yang paling tangguh, Mayor Konig (Ed Harris) untuk memburu Vassili.
Apa yang akan terjadi setelah Konig bertemu dengan Vassili ? Bagaimana pula akhir kisah cinta segitiga Vassili, Tania dan Danilov ?
John Tyree (Channing Tatum) seorang prajurit muda Amerika yang sedang cuti dari tugasnya, ia bertemu dengan Savannah Curtis (Amanda Seyfried), seorang mahasiswi dan mereka saling jatuh cinta. Pasangan ini dipisahkan oleh penempatan tugas John ke daerah konflik. Sementara terpisah, mereka tetap berhubungan melalui surat cinta. Saat terjadi serangan 11 September, John pun memperpanjang masa dinasnya di militer. Savannah tidak bisa ditinggal lama-lama. Ia mengirim surat kepada John dan mengatakan menjalin hubungan dengan laki-laki lain. John mengira Savannah berhubungan dengan tetangganya yang kaya sehingga patah hati, tapi ia salah. Sampai pada akhirnya mereka pun tidak lagi saling surat menyurat dikarenakan keadaan.